Nama : Raphael Rio Cayono
NIM : 211810026
Mata Kuliah : Agama
BAB I
Latar Belakang
Seperti yang telah kita ketahui,
bahwa permasalahan agama di negeri ini telah menjadi sesuatu yang seakan-akan
telah sangat melekat dan sulit untuk tidak dikaitkan dengan semua persoalan
yang terjadi di negeri ini, mulai dari sisi ekonomi, pendidikan, sosial,
budaya, dan yang paling masif adalah persoalan politik. Jika membicarakan
politik di negeri ini, semua seakan seperti takbisa lepas dari yang namanya
persoalan Agama. Contoh mutlak permasalahan agama dan politik yang terjadi
adalah kasus “Ahok”. Siapa yang tak mengetahui kasus ini? Seolah olah mayoritas
warga negara kita sudah mengetahui benar apa yang sebenarnya terjadi mengenai
kasus ini. Tak bisa dipungkiri, hanya dengan contoh kasus mutlak tersebut kita
sudah bisa mendeskripsikan betapa benar benar lunturnya inlusivisme yang ada di
negeri ini.
Untuk mengetahui dan menelaah lebih
lanjut kasus lunturnya inklusivisme serta relasi agama dan masyarakat di
Indonesia kita harus memahami terlebih dahulu apa itu inklusivisme. Sebenarnya,
Alan Race mengemukakan tiga model tipologi yaitu,
eksklusivisme-inklusivisme-pluralisme. Eksklusivis ialah seorang yang
menganggap agamanya sebagai satu-satunya agama yang benar dan agama lain
sebagai jalan kesesatan. Inklusivis menganggap agama lain mengandung elemen
kebenaran, tapi kebenaran dalam agamanya masih superior. Pluralis menegasikan
superioritas tersebut karena agama-agama yang berbeda merupakan jalan yang
absah menuju keselamatan. Secara garis besar, tiga pendekatan di atas diterima
luas, walaupun ada perbedaan dalam mendeskripsikannya. Perlu dicatat, deskripsi
di atas dibuat oleh pendukung pluralisme sebagai model terbaik dalam hubungan
antar-agama. Alan Race sendiri adalah murid John Hick, seorang filosof yang
dikenal sebagai penggagas awal pluralisme agama dalam tradisi Kristen. Konsekuensi
logis dari deskripsi yang simplistis itu ialah kenyataan bahwa tipologi
tersebut mengabaikan keragaman dalam masing-masing pendekatan.
Pluralitas
dalam paham pluralisme tidak diperhatikan, dan demikian pula dalam dua pendekatan
lain. Karena itu, beberapa sarjana mulai menunjukkan keterbatasan tipologi
“eksklusivisme-inklusivisme-pluralisme” untuk menggambarkan kompleksitas
teologi tentang agama-agama, baik dalam Kristen maupun Islam. Perry
Schmidt-Leukel, seorang teolog asal Jerman, merangkum dengan baik berbagai
keberatan yang diajukan sejumlah sarjana atas tipologi tersebut. Setidaknya,
ada delapan masalah yang dicatat Schmidt-Leukel, dari yang mempersoalkan
tipologi tersebut “tidak konsisten” atau “menyesatkan” hingga mereka yang
menganggapnya terlalu dipaksakan karena alasan berbeda. Dari kelompok terakhir,
terdapat mereka yang menganggap “eksklusivisme-inklusivisme-pluralisme” terlalu
sempit dan perlu ditambah supaya mencakup pendekatan-pendekatan lain. Mereka
memang berbeda pendapat soal model apa saja yang mesti dimasukkan. Misalnya,
ada yang mengusulkan kategori “universalisme” atau “acceptance model”. Sebagian
sarjana memandang sebaliknya: tipologi tersebut terlalu umum sehingga tidak
memotret aspek-aspek partikuler dalam sikap keberagamaan. Gavin D’Costa
termasuk yang berargumen bahwa tipologi itu terlalu umum, alias tidak ada
manfaatnya. Bagi D’Costa, sebenarnya masing-masing pendekatan masih meyakini
adanya “klaim kebenaran” (truth claim).
Karena itu, baik pluralisme maupun inklusivisme sebenarnya tak lebih dari
bagian tipe eksklusivisme.
BAB II
ISI
Mengenai
kasus serta konflik dalam hal agama berbagai konflik diantara agama-agama
dipaparkan secara khusus:
1.
Konflik antara Yahudi dan Nasrani. Walaupun sumber konflik ini didasarkan atas
kitab suci namun justru unsur dogmatis agama ini sangat mendukung pengambaran
konflik yang terjadi. Menurut versi Yahudi, Nasrani adalah agama yang sesat
karena menganggap Yesus sebagai mesias (juru selamat). Dalam pandangan Yahudi
sendiri Yesus adalah penista agama yang paling berbahaya karena menganggap
dirinya adalah anak Allah, sampai akhirnya otoritas Yahudi sendiri menghukum
mati Yesus dengan cara disalibkan, sebuah jenis hukuman bagi penjahat kelas
kakap pada waktu itu. Sedangkan menurut pandangan Kristen, umat Yahudi adalah
umat pilihan Allah yang justru menghianati Allah itu sendiri. Untuk itu Yesus
datang ke dunia demi menyelamatkan umat tersebut dari murka Allah. Dalam
beberapa kesempatan, misalnya, ketika Yesus mengamuk di bait Allah karena
dipakai sebagai tempat berjualan, atau dalam kasus lain yaitu penolakan orang
Israel terhadap ajaran Yesus.
2.
Konflik Islam-Kristen. Konflik ini pada awalnya diilhami oleh kepercayaan bahwa
Islam memandang Nasrani sebagai agama kafir karena mempercayai Yesus sebagai
anak Allah, padahal dalam ajaran Islam Nabi Isa (Yesus) merupakan nabi biasa
yang pamornya kalah dari nabi utama mereka Muhammad S.A.W. Konflik ini pada
awalnya hanya pada tataran kepercayaan saja, namun ketika unsur politis,
ekonomi, dan budaya masuk, maka konflik yang bermuara pada pecahnya Perang
Salib selama beberapa abad menegaskan rivalitas Islam-Kristen sampai sekarang.
Konflik itu sendiri muncul ketika Agama Kristen dan Islam mencapai puncak
kejayaannya berusaha menunjukkan dominasinya. Ketika itu Islam yang berusaha
meluaskan pengaruhnya ke Eropa, mendapat tantangan dari Nasrani yang terlebih
dahulu ada dan telah mapan. Puncak pertempuran itu sebenarnya terjadi ketika
perebutan Kota Suci Jerusalem yang akhirnya dimenangkan tentara salib. Sebagai
balasan, Islam kemudian berhasil merebut Konstatinopel yang merupakan poros
dagang Eropa-Asia pada saat itu.
3.
Konflik antara Yahudi-Islam yang masih hangat dalam ingatan kita. Konflik ini
berawal dari kepercayaan orang Yahudi akan tanah yang dijanjikan Allah kepada
mereka yang dipercayai terletak di daerah Israel, termasuk Yerusalem, sekarang.
Pasca perbudakan Mesir, ketika orang Yahudi melakukan eksodus ke Mesir namun
kemudian malah diperbudak sampai akhirnya diselamatkan oleh Musa, orang Yahudi
kemudian kembali ke tanah mereka yang lama, yaitu Israel. Akan tetapi, pada
saat itu orang Arab telah bermukim di daerah itu. Didasarkan atas kepercayaan
itu, kemudian orang Yahudi mulai mengusir Orang Arab yang beragama Islam itu.
Inilah sebenarnya yang menjadi akar konflik Israel dan Palestina dalam rangka
memperebutkan Jerusalem. Konflik ini semakin panas ketika unsur politis mulai
masuk.
Beberapa contoh pemaparan konflik
antar agama secara general tersebut nampaknya bukan menjadi sesuatu yang baru
bagi kita. Dikarenakan, konflik agama yang melanda negara kita tak kalah
parahnya. Hal hal tersebutlah yang semakin menguatkan bukti bahwa sifat
inklusivisme telah luntur di masyarakat kita.
BAB III
PENUTUP
Dengan berbagai contoh kasus yang
telah saya paparkan dibagian isi, kita semakin sadar bahwa inklusivisme sudah
sangat luntur di masyarakat kita. Jangankan inklusivisme, bahkan rasa toleransi
antar sesama sudah mulai pudar. Apa yang harus kita benahi untuk menjaga
persatuan dan kesatuan di negara ini? Tidak lain tidak bukan satu satunya cara
hanyalah memperkuat sifat inklusivisme, dan belajar kembali untuk menanamkan
sifat toleransi yang telah perlahan memudar di masyarakat kita. Mungkin itu
sudah menjadi sesuatu yang sangat berat untuk direalisasikan, karena sepertinya
sifat orang orang Indonesia yang kebanyakan mudah tersulut. Demikian artikel
ini saya tulis untuk pemenuhan nilai kuis besar mata kuliah Agama yang
bertemakan Relasi Agama dan masyarakat serta lunturnya sifat inklusivisme.
DAFTAR PUSTAKA
·
Researchgate.net
·
Arrahmah.com
·
Geotimes.co.id
·
Academia.edu