Senin, 04 November 2019

The Strange and Beautiful Sorrows of Ava Lavender Book Review

“The Strange and Beautiful Sorrows of Ava Lavender” is a young adult fantasy novel by Leslye Walton, which recounts the family history, and early life of Ava Lavender, a girl born with wings. Ava’s maternal family originates from France to settle in New York, including her grandmother, Emilienne. Emilienne struggles with love in her youth, and the deaths of her three siblings and both parents leave her shaken and wanting to leave New York. As a result, at the age of 20, she marries 31-year-old baker, Connor Lavender, who had previously believed he was not marriageable material due to his deformed leg as a result of childhood polio. Emilienne promises him one child if he will get her as far away from New York as possible. She and Connor then move to Seattle, where several months later, Emilienne gives birth to their only child, a daughter named Viviane. Connor dies of a heart-attack not long after, leaving Emilienne to run the bakery.
Viviane, as a child, befriends Jack Griffith, a neighborhood kid, and as teenagers, they fall in love with one another. Jack’s father, however, has high expectation of his son, which Jack can never meet. He breaks up with Viviane in order to marry a wealthy girl for her money and for the status it will afford him. Nevertheless, Jack still sleeps with Viviane once, who later gives birth to twins –the winged Ava Lavender, and her brother, the very-quiet Henry Lavender.
Ava and Henry are kept at home by Viviane, who worries that they will not do well out in the world. Nevertheless, Ava befriends a new girl on the block named Cardigan, who is happy to visit with Ava regularly. When they are both 15, they notice a young man arriving at the Widow Marigold Pie’s house in the neighborhood. They learn the man is an aspiring priest named Nathaniel Sorrows, who has been sent to take care of his aunt and help her get her health in order. Ava is immediately smitten with Nathaniel. On the first night Ava ever sneaks out with Cardigan, along with Cardigan’s older brother, Rowe, to head to the reservoir, while heading home alone, she encounters Nathaniel. Nathaniel has been struck by her wings, believing her to be an angel. She allows Nathaniel to touch her wings, and over the next few weeks, does everything she can to get Nathaniel to notice her. She preens her feathers in her open window so he can see her, and she leaves piles of feathers for him on his aunt’s doorstep. She begins to imagine what a married life with Nathaniel would be like, only to discover, in the end, that her crush is no more than a crush. Ava ends up falling in love with Rowe, instead.
Nathaniel, however, has become obsessed with Ava. While she is on her way home one night in the rain after a neighborhood celebration, Nathaniel invites her into his aunt’s house, where he proceeds to attack and rape her, stunned to discover that she is not an angel after all. Enraged, he hacks off her wings, and flees the house. Viviane, who has noticed her daughter is missing, is driving to find Ava when she sees Nathaniel running down the street. Two of Viviane’s dead ancestors appear with Nathaniel, and cause him to burst into flames and disappear. Ava is rushed to the hospital, while the entire neighborhood turns out in a vigil of prayer for her. At home, she recovers slowly, her wings regrowing, and she endeavors to survive in order to return the love Rowe has given her. While Ava recovers, Emilienne herself begins to weaken, and ultimately passes away. At the end of the novel, now recovered, for the first time in her life, Ava takes to the night sky in flight.

Senin, 25 Februari 2019

Relasi Agama dan Masyarakat serta Lunturnya Inklusivisme


Nama : Raphael Rio Cayono
NIM : 211810026
Mata Kuliah : Agama


BAB I
Latar Belakang

            Seperti yang telah kita ketahui, bahwa permasalahan agama di negeri ini telah menjadi sesuatu yang seakan-akan telah sangat melekat dan sulit untuk tidak dikaitkan dengan semua persoalan yang terjadi di negeri ini, mulai dari sisi ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, dan yang paling masif adalah persoalan politik. Jika membicarakan politik di negeri ini, semua seakan seperti takbisa lepas dari yang namanya persoalan Agama. Contoh mutlak permasalahan agama dan politik yang terjadi adalah kasus “Ahok”. Siapa yang tak mengetahui kasus ini? Seolah olah mayoritas warga negara kita sudah mengetahui benar apa yang sebenarnya terjadi mengenai kasus ini. Tak bisa dipungkiri, hanya dengan contoh kasus mutlak tersebut kita sudah bisa mendeskripsikan betapa benar benar lunturnya inlusivisme yang ada di negeri ini.
            Untuk mengetahui dan menelaah lebih lanjut kasus lunturnya inklusivisme serta relasi agama dan masyarakat di Indonesia kita harus memahami terlebih dahulu apa itu inklusivisme. Sebenarnya, Alan Race mengemukakan tiga model tipologi yaitu, eksklusivisme-inklusivisme-pluralisme. Eksklusivis ialah seorang yang menganggap agamanya sebagai satu-satunya agama yang benar dan agama lain sebagai jalan kesesatan. Inklusivis menganggap agama lain mengandung elemen kebenaran, tapi kebenaran dalam agamanya masih superior. Pluralis menegasikan superioritas tersebut karena agama-agama yang berbeda merupakan jalan yang absah menuju keselamatan. Secara garis besar, tiga pendekatan di atas diterima luas, walaupun ada perbedaan dalam mendeskripsikannya. Perlu dicatat, deskripsi di atas dibuat oleh pendukung pluralisme sebagai model terbaik dalam hubungan antar-agama. Alan Race sendiri adalah murid John Hick, seorang filosof yang dikenal sebagai penggagas awal pluralisme agama dalam tradisi Kristen. Konsekuensi logis dari deskripsi yang simplistis itu ialah kenyataan bahwa tipologi tersebut mengabaikan keragaman dalam masing-masing pendekatan.
Pluralitas dalam paham pluralisme tidak diperhatikan, dan demikian pula dalam dua pendekatan lain. Karena itu, beberapa sarjana mulai menunjukkan keterbatasan tipologi “eksklusivisme-inklusivisme-pluralisme” untuk menggambarkan kompleksitas teologi tentang agama-agama, baik dalam Kristen maupun Islam. Perry Schmidt-Leukel, seorang teolog asal Jerman, merangkum dengan baik berbagai keberatan yang diajukan sejumlah sarjana atas tipologi tersebut. Setidaknya, ada delapan masalah yang dicatat Schmidt-Leukel, dari yang mempersoalkan tipologi tersebut “tidak konsisten” atau “menyesatkan” hingga mereka yang menganggapnya terlalu dipaksakan karena alasan berbeda. Dari kelompok terakhir, terdapat mereka yang menganggap “eksklusivisme-inklusivisme-pluralisme” terlalu sempit dan perlu ditambah supaya mencakup pendekatan-pendekatan lain. Mereka memang berbeda pendapat soal model apa saja yang mesti dimasukkan. Misalnya, ada yang mengusulkan kategori “universalisme” atau “acceptance model”. Sebagian sarjana memandang sebaliknya: tipologi tersebut terlalu umum sehingga tidak memotret aspek-aspek partikuler dalam sikap keberagamaan. Gavin D’Costa termasuk yang berargumen bahwa tipologi itu terlalu umum, alias tidak ada manfaatnya. Bagi D’Costa, sebenarnya masing-masing pendekatan masih meyakini adanya “klaim kebenaran” (truth claim). Karena itu, baik pluralisme maupun inklusivisme sebenarnya tak lebih dari bagian tipe eksklusivisme.

BAB II
ISI
           
Mengenai kasus serta konflik dalam hal agama berbagai konflik diantara agama-agama dipaparkan secara khusus:
1. Konflik antara Yahudi dan Nasrani. Walaupun sumber konflik ini didasarkan atas kitab suci namun justru unsur dogmatis agama ini sangat mendukung pengambaran konflik yang terjadi. Menurut versi Yahudi, Nasrani adalah agama yang sesat karena menganggap Yesus sebagai mesias (juru selamat). Dalam pandangan Yahudi sendiri Yesus adalah penista agama yang paling berbahaya karena menganggap dirinya adalah anak Allah, sampai akhirnya otoritas Yahudi sendiri menghukum mati Yesus dengan cara disalibkan, sebuah jenis hukuman bagi penjahat kelas kakap pada waktu itu. Sedangkan menurut pandangan Kristen, umat Yahudi adalah umat pilihan Allah yang justru menghianati Allah itu sendiri. Untuk itu Yesus datang ke dunia demi menyelamatkan umat tersebut dari murka Allah. Dalam beberapa kesempatan, misalnya, ketika Yesus mengamuk di bait Allah karena dipakai sebagai tempat berjualan, atau dalam kasus lain yaitu penolakan orang Israel terhadap ajaran Yesus.
            2. Konflik Islam-Kristen. Konflik ini pada awalnya diilhami oleh kepercayaan bahwa Islam memandang Nasrani sebagai agama kafir karena mempercayai Yesus sebagai anak Allah, padahal dalam ajaran Islam Nabi Isa (Yesus) merupakan nabi biasa yang pamornya kalah dari nabi utama mereka Muhammad S.A.W. Konflik ini pada awalnya hanya pada tataran kepercayaan saja, namun ketika unsur politis, ekonomi, dan budaya masuk, maka konflik yang bermuara pada pecahnya Perang Salib selama beberapa abad menegaskan rivalitas Islam-Kristen sampai sekarang. Konflik itu sendiri muncul ketika Agama Kristen dan Islam mencapai puncak kejayaannya berusaha menunjukkan dominasinya. Ketika itu Islam yang berusaha meluaskan pengaruhnya ke Eropa, mendapat tantangan dari Nasrani yang terlebih dahulu ada dan telah mapan. Puncak pertempuran itu sebenarnya terjadi ketika perebutan Kota Suci Jerusalem yang akhirnya dimenangkan tentara salib. Sebagai balasan, Islam kemudian berhasil merebut Konstatinopel yang merupakan poros dagang Eropa-Asia pada saat itu.
            3. Konflik antara Yahudi-Islam yang masih hangat dalam ingatan kita. Konflik ini berawal dari kepercayaan orang Yahudi akan tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka yang dipercayai terletak di daerah Israel, termasuk Yerusalem, sekarang. Pasca perbudakan Mesir, ketika orang Yahudi melakukan eksodus ke Mesir namun kemudian malah diperbudak sampai akhirnya diselamatkan oleh Musa, orang Yahudi kemudian kembali ke tanah mereka yang lama, yaitu Israel. Akan tetapi, pada saat itu orang Arab telah bermukim di daerah itu. Didasarkan atas kepercayaan itu, kemudian orang Yahudi mulai mengusir Orang Arab yang beragama Islam itu. Inilah sebenarnya yang menjadi akar konflik Israel dan Palestina dalam rangka memperebutkan Jerusalem. Konflik ini semakin panas ketika unsur politis mulai masuk.
            Beberapa contoh pemaparan konflik antar agama secara general tersebut nampaknya bukan menjadi sesuatu yang baru bagi kita. Dikarenakan, konflik agama yang melanda negara kita tak kalah parahnya. Hal hal tersebutlah yang semakin menguatkan bukti bahwa sifat inklusivisme telah luntur di masyarakat kita.
BAB III
PENUTUP

            Dengan berbagai contoh kasus yang telah saya paparkan dibagian isi, kita semakin sadar bahwa inklusivisme sudah sangat luntur di masyarakat kita. Jangankan inklusivisme, bahkan rasa toleransi antar sesama sudah mulai pudar. Apa yang harus kita benahi untuk menjaga persatuan dan kesatuan di negara ini? Tidak lain tidak bukan satu satunya cara hanyalah memperkuat sifat inklusivisme, dan belajar kembali untuk menanamkan sifat toleransi yang telah perlahan memudar di masyarakat kita. Mungkin itu sudah menjadi sesuatu yang sangat berat untuk direalisasikan, karena sepertinya sifat orang orang Indonesia yang kebanyakan mudah tersulut. Demikian artikel ini saya tulis untuk pemenuhan nilai kuis besar mata kuliah Agama yang bertemakan Relasi Agama dan masyarakat serta lunturnya sifat inklusivisme.

DAFTAR PUSTAKA
·                         Researchgate.net
·                         Arrahmah.com
·                         Geotimes.co.id
·                         Academia.edu

A visual guide to Coronavirus especially in Indonesia

I am a student of English Letters Department at Universitas Ma Chung (https://machung.ac.id) and this is my work. A visual guide to Co...