Senin, 25 Februari 2019

Relasi Agama dan Masyarakat serta Lunturnya Inklusivisme


Nama : Raphael Rio Cayono
NIM : 211810026
Mata Kuliah : Agama


BAB I
Latar Belakang

            Seperti yang telah kita ketahui, bahwa permasalahan agama di negeri ini telah menjadi sesuatu yang seakan-akan telah sangat melekat dan sulit untuk tidak dikaitkan dengan semua persoalan yang terjadi di negeri ini, mulai dari sisi ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, dan yang paling masif adalah persoalan politik. Jika membicarakan politik di negeri ini, semua seakan seperti takbisa lepas dari yang namanya persoalan Agama. Contoh mutlak permasalahan agama dan politik yang terjadi adalah kasus “Ahok”. Siapa yang tak mengetahui kasus ini? Seolah olah mayoritas warga negara kita sudah mengetahui benar apa yang sebenarnya terjadi mengenai kasus ini. Tak bisa dipungkiri, hanya dengan contoh kasus mutlak tersebut kita sudah bisa mendeskripsikan betapa benar benar lunturnya inlusivisme yang ada di negeri ini.
            Untuk mengetahui dan menelaah lebih lanjut kasus lunturnya inklusivisme serta relasi agama dan masyarakat di Indonesia kita harus memahami terlebih dahulu apa itu inklusivisme. Sebenarnya, Alan Race mengemukakan tiga model tipologi yaitu, eksklusivisme-inklusivisme-pluralisme. Eksklusivis ialah seorang yang menganggap agamanya sebagai satu-satunya agama yang benar dan agama lain sebagai jalan kesesatan. Inklusivis menganggap agama lain mengandung elemen kebenaran, tapi kebenaran dalam agamanya masih superior. Pluralis menegasikan superioritas tersebut karena agama-agama yang berbeda merupakan jalan yang absah menuju keselamatan. Secara garis besar, tiga pendekatan di atas diterima luas, walaupun ada perbedaan dalam mendeskripsikannya. Perlu dicatat, deskripsi di atas dibuat oleh pendukung pluralisme sebagai model terbaik dalam hubungan antar-agama. Alan Race sendiri adalah murid John Hick, seorang filosof yang dikenal sebagai penggagas awal pluralisme agama dalam tradisi Kristen. Konsekuensi logis dari deskripsi yang simplistis itu ialah kenyataan bahwa tipologi tersebut mengabaikan keragaman dalam masing-masing pendekatan.
Pluralitas dalam paham pluralisme tidak diperhatikan, dan demikian pula dalam dua pendekatan lain. Karena itu, beberapa sarjana mulai menunjukkan keterbatasan tipologi “eksklusivisme-inklusivisme-pluralisme” untuk menggambarkan kompleksitas teologi tentang agama-agama, baik dalam Kristen maupun Islam. Perry Schmidt-Leukel, seorang teolog asal Jerman, merangkum dengan baik berbagai keberatan yang diajukan sejumlah sarjana atas tipologi tersebut. Setidaknya, ada delapan masalah yang dicatat Schmidt-Leukel, dari yang mempersoalkan tipologi tersebut “tidak konsisten” atau “menyesatkan” hingga mereka yang menganggapnya terlalu dipaksakan karena alasan berbeda. Dari kelompok terakhir, terdapat mereka yang menganggap “eksklusivisme-inklusivisme-pluralisme” terlalu sempit dan perlu ditambah supaya mencakup pendekatan-pendekatan lain. Mereka memang berbeda pendapat soal model apa saja yang mesti dimasukkan. Misalnya, ada yang mengusulkan kategori “universalisme” atau “acceptance model”. Sebagian sarjana memandang sebaliknya: tipologi tersebut terlalu umum sehingga tidak memotret aspek-aspek partikuler dalam sikap keberagamaan. Gavin D’Costa termasuk yang berargumen bahwa tipologi itu terlalu umum, alias tidak ada manfaatnya. Bagi D’Costa, sebenarnya masing-masing pendekatan masih meyakini adanya “klaim kebenaran” (truth claim). Karena itu, baik pluralisme maupun inklusivisme sebenarnya tak lebih dari bagian tipe eksklusivisme.

BAB II
ISI
           
Mengenai kasus serta konflik dalam hal agama berbagai konflik diantara agama-agama dipaparkan secara khusus:
1. Konflik antara Yahudi dan Nasrani. Walaupun sumber konflik ini didasarkan atas kitab suci namun justru unsur dogmatis agama ini sangat mendukung pengambaran konflik yang terjadi. Menurut versi Yahudi, Nasrani adalah agama yang sesat karena menganggap Yesus sebagai mesias (juru selamat). Dalam pandangan Yahudi sendiri Yesus adalah penista agama yang paling berbahaya karena menganggap dirinya adalah anak Allah, sampai akhirnya otoritas Yahudi sendiri menghukum mati Yesus dengan cara disalibkan, sebuah jenis hukuman bagi penjahat kelas kakap pada waktu itu. Sedangkan menurut pandangan Kristen, umat Yahudi adalah umat pilihan Allah yang justru menghianati Allah itu sendiri. Untuk itu Yesus datang ke dunia demi menyelamatkan umat tersebut dari murka Allah. Dalam beberapa kesempatan, misalnya, ketika Yesus mengamuk di bait Allah karena dipakai sebagai tempat berjualan, atau dalam kasus lain yaitu penolakan orang Israel terhadap ajaran Yesus.
            2. Konflik Islam-Kristen. Konflik ini pada awalnya diilhami oleh kepercayaan bahwa Islam memandang Nasrani sebagai agama kafir karena mempercayai Yesus sebagai anak Allah, padahal dalam ajaran Islam Nabi Isa (Yesus) merupakan nabi biasa yang pamornya kalah dari nabi utama mereka Muhammad S.A.W. Konflik ini pada awalnya hanya pada tataran kepercayaan saja, namun ketika unsur politis, ekonomi, dan budaya masuk, maka konflik yang bermuara pada pecahnya Perang Salib selama beberapa abad menegaskan rivalitas Islam-Kristen sampai sekarang. Konflik itu sendiri muncul ketika Agama Kristen dan Islam mencapai puncak kejayaannya berusaha menunjukkan dominasinya. Ketika itu Islam yang berusaha meluaskan pengaruhnya ke Eropa, mendapat tantangan dari Nasrani yang terlebih dahulu ada dan telah mapan. Puncak pertempuran itu sebenarnya terjadi ketika perebutan Kota Suci Jerusalem yang akhirnya dimenangkan tentara salib. Sebagai balasan, Islam kemudian berhasil merebut Konstatinopel yang merupakan poros dagang Eropa-Asia pada saat itu.
            3. Konflik antara Yahudi-Islam yang masih hangat dalam ingatan kita. Konflik ini berawal dari kepercayaan orang Yahudi akan tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka yang dipercayai terletak di daerah Israel, termasuk Yerusalem, sekarang. Pasca perbudakan Mesir, ketika orang Yahudi melakukan eksodus ke Mesir namun kemudian malah diperbudak sampai akhirnya diselamatkan oleh Musa, orang Yahudi kemudian kembali ke tanah mereka yang lama, yaitu Israel. Akan tetapi, pada saat itu orang Arab telah bermukim di daerah itu. Didasarkan atas kepercayaan itu, kemudian orang Yahudi mulai mengusir Orang Arab yang beragama Islam itu. Inilah sebenarnya yang menjadi akar konflik Israel dan Palestina dalam rangka memperebutkan Jerusalem. Konflik ini semakin panas ketika unsur politis mulai masuk.
            Beberapa contoh pemaparan konflik antar agama secara general tersebut nampaknya bukan menjadi sesuatu yang baru bagi kita. Dikarenakan, konflik agama yang melanda negara kita tak kalah parahnya. Hal hal tersebutlah yang semakin menguatkan bukti bahwa sifat inklusivisme telah luntur di masyarakat kita.
BAB III
PENUTUP

            Dengan berbagai contoh kasus yang telah saya paparkan dibagian isi, kita semakin sadar bahwa inklusivisme sudah sangat luntur di masyarakat kita. Jangankan inklusivisme, bahkan rasa toleransi antar sesama sudah mulai pudar. Apa yang harus kita benahi untuk menjaga persatuan dan kesatuan di negara ini? Tidak lain tidak bukan satu satunya cara hanyalah memperkuat sifat inklusivisme, dan belajar kembali untuk menanamkan sifat toleransi yang telah perlahan memudar di masyarakat kita. Mungkin itu sudah menjadi sesuatu yang sangat berat untuk direalisasikan, karena sepertinya sifat orang orang Indonesia yang kebanyakan mudah tersulut. Demikian artikel ini saya tulis untuk pemenuhan nilai kuis besar mata kuliah Agama yang bertemakan Relasi Agama dan masyarakat serta lunturnya sifat inklusivisme.

DAFTAR PUSTAKA
·                         Researchgate.net
·                         Arrahmah.com
·                         Geotimes.co.id
·                         Academia.edu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A visual guide to Coronavirus especially in Indonesia

I am a student of English Letters Department at Universitas Ma Chung (https://machung.ac.id) and this is my work. A visual guide to Co...